Menyajikan Cerita dan Kisah Nabi Umat Islam, Sejarah Islam, Tempat Bersejarah Islam, Kumpulan Doa, Kajian Islam, dan berita Islam

Kamis, 04 Januari 2018

3 Perkara Tugas Nabi Umat Islam

Tugas-tugas kenabian dapat disimpulkan dalam tiga perkara, yaitu:


  1. Seruan untuk beriman kepada Allah dan ke-Esaan-Nya.
  2. Iman kepada hari akhir dan balasan terhadap amal-amal pada hari itu.
  3. Penjelasan hukum-hukum yang di dalamnya terdapat kebaikan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.
Ilustrasi Kisah Nabi dan Rasul
Ilustrasi Kisah Nabi dan Rasul

Dalam artikel kali ini saya akan memberikan penjelasan dari perkara-perkara itu.

Iman kepada Allah

Iman kepada Allah adalah fitrah dalam jiwa manusia.

Maka setiap manusia mendapatkan dirinya dikuasai oleh suatu kekuatan yang lebih tinggi dari kekuatannya, akan tetapi banyak manusia yang berbeda dalam penentuan kekuatan itu. Di antaranya ada yang menafsirkan sebagai kekuatan alam dan ada yang menafsir-kan sebagai berhala-berhala yang mereka buat dan yang lain menafsirkannya selain itu.

Maka datanglah nabi-nabi membetulkan kesesatan-kesesatan ini dan membimbing akal ke arah iktikad akan adanya Allah dan ke-Esaan-Nya.

Dakwah pertama dari para nabi dan tujuan mereka yang terbesar di setiap zaman dalam setiap lingkungan adalah pembetulan akidah mengenai Allah Ta'ala dan pembetulan hubungan antara hamba dengan Tuhannya. Juga mengajak kepada pengikhlasan agama bagi Allah semata, bahwa Dialah yang mendatangkan manfaat dan bahaya. Kepada-Nya manusia berdoa dan berlindung serta beribadah.

Missi para nabi dipusatkan dan diarahkan kepada pemberantasan berhala di masa-masa mereka, yang tercermin dalam bentuk penyembahan patung-patung, berhala-berhala dan orang-orang suci, baik orang yang masih hidup maupun sudah mati.

Andaikata akal manusia bertindak sendirian dalam memahami kebenaran-kebenaran ini, maka tidak akan dapat menjangkaunya, khususnya dalam perkara-perkara gaib yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia dan pengetahuan tanpa wahyu yang disampaikan Allah kepada nabi-nabi.

Filsafat-filsafat Yunani dan lainnya telah berusaha mempelajari ke-Tuhan-an, maka mereka pun mengemukakan pendapat-pendapat yang sating bertentangan sebagaimana para ulama di zaman ini berbeda pendapat dalam menafsirkan ke-Tuhan-an. Sementara para nabi datang membawa kepastian dalam penafsiran dan penentuan kekuatan Ilahi dengan pendapat yang menentramkan akal.

Imam kepada Hari Akhir

la juga termasuk tugas-tugas kenabian, karena is termasuk perkara-perkara gaib yang kebenarannya tidak bisa dijangkau oleh akal tanpa petunjuk para nabi.

Setiap manusia mempunyai perasaan mengenai hal itu, bahwa kehidupan ini tidak berakhir dengan berakhirnya umur, bahkan di sana ada kehidupan lain di mana dia akan hidup di atas suatu bentuk tertentu.

Perasaan yang umum dan menyertai kebanyakan manusia ini tidak mungkin dianggap sebagai salah satu kesesatan akal dan salah satu khayalannya sebagaimana anggapan kaum materialis.
Kemudian, sesungguhnya kekosongan akal dari iktikad adanya kehidupan lain menyebabkan bencana atas jenis manusia dari segi kejiwaan dan sosial.

Setiap manusia cenderung terkena musibah berupa penyakit-penyakit, penindasan dan penganiayaan serta kerugian besar. Setelah itu akan ada kehidupan yang lebih baik dari pada kehidupan ini, di mana manusia akan diberikan balasan dengan adil. Mereka yang saleh akan mendapatkan hiburan dan ketenangan di dalam jiwa-jiwa yang sedih.

Sebagaimana adanya kehidupan lain di mana manusia dihisab atas apa yang diperbuat oleh kedua tangannya, maka akan dapat menimbulkan Kati nurani manusia yang hidup mendorong kepada kebaikan dan mencegah kejahatan. Oleh karenanya, manusia tidak mampu memahami sifat balasan menurut bentuknya yang tepat tanpa khayalan apabila tidak ada petunjuk yang dibawa para nabi.

Penjelasan Hukum-Hukum

Diantara tugas-tugas kenabian adalah membimbing manusia kepada perbuatan-perbuatan utama yang di dalamnya terdapat kebahagiaan di dunia dan akhirat dengan perantaraan hukum-hukum yang mereka terima dari Allah.

Manusia tidak bisa sampai dengan akal-akal mereka kepada serer perbuatan utama, karena faktor-faktor pembawaan mereka dan maslahat-maslahat serta syahwat-syahwat mereka berbeda.

Kejahatan itu adakalanya dalam pandangan sebagian orang merupakan kebaikan apabila dalam kejahatan itu mereka mendapat hasil dan keuntungan, dan adakalanya mereka meninggalkan kebaikan apabila tidak memuaskan maslahat-maslahat dan hawa nafsu mereka yang khusus.

Bukti terbesar mengenai hal itu adalah keadaan yang meliputi dunia kita sekarang ini, berupa penganiayaan dan permusuhan serta pelanggaran hak-hak orang yang lemah, dunia yang mengaku bahwa ia telah sampai ke derajat yang tinggi berupa kemajuan dan peradapan.

Oleh karma ini, maka risalah nabi-nabi merupakan penjelasan dan amal-amal saleh yang menyebabkan manusia patut mendapat keridhaan Allah dan perbaikan bagi masyarakat.

Tidak diragukan lagi bahwa penentuan amal-amal baik dan buruk dan penjelasan manfaat dan bahayanya serta pahala dan hukumannya, bisa menimbulkan manusia senang untuk berbuat kebaikan dan menghindari kejahatan. Dan ia adalah sebuah unsur yang ampuh pengaruhnya dalam jiwa manusia.

Sesungguhnya pengutusan rasul-rasul kepada manusia untuk memutuskan dalih dari orang-orang yang berbuat aniaya, bahwa Allah tidak menjelaskan kepada mereka jalan kebenaran yang patut mereka tempuh.

Kebenaran ini diungkapkan oleh A1-Qur'an:

"Rasul-rasul yang membawa kabar gembira dan memberi peringatan agar supaya manusia tidak mempunyai alasan terhadap Allah sesudah kedatangan rasul-rasul itu, dan Allah Matta Perkasa Lagi Bijaksana." (Q.S. An-Nisa' :165)

Demikianlah sunnah Allah telah berlaku pada makhluk-Nya, bahwa la tidak menghukum seseorang, kecuali sesudah mengutus seorang rasul.

Allah Swt. berfirman:

"Tidaklah Komi menyiksa seseorang hingga kami mengutus seorcng rasa" (Q.S. A1-Isra':15)


Jumlah Nabi dan Rasul


Adapun nabi dan rasul yang disebut AI-Qur'an dan wajib kita imani jumlahnya ada 25 orang.
Mereka adalah Adam. Idris, Nuh, Hud, Shaleh, Ibrahim, Luth, Ismail. Ishag. Ya'qub, Yusuf, Syuaib. Ayyub, Zulkifli, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman. Ryas, Ilyasa', Yunus, Zakaria, Yahya, Isa dan Muhammad alaihimus salam.

Ada rasul-rasul lain yang namanya tidak disebut dalam AI-Qur'an, akantetapi Allah menunjuk kepada mereka dengan firman-Nya yang ditujukan kepacla rasul-Nya Muhammad Saw.:

"Dan rasul-rasul yang telah Kami ceritakan tentang mereka kepadamu sebelumnya, dan ada rasul-rasul yang tidak Korn' ceritakan tentang mereka kepadamu." (Q.S. An-Nisa': 164)

Nabi-nabi itu tidaklah sama derajatnya dalam keutamaan dan kedudukannya, akan tetapi Allah telah melebihkan sebagian nabi-nabi dari sebagian lainnya.

Allah Swt. berfirman:

"Kami telah melebihkan sebagian nabi-nabi dari sebagian lainnya."

Allah telah mengangkat derajat Muhammad Saw. di atas derajat Para nabi, bahwa la mengutusnya kepada manusia, sedangkan nabi-nabi yang terdahulu diutus kepada umat-umat mereka sendiri.
Allah Swt. berfirman kepada rasul-Nya Muhammad Saw.:

"Tidaklah Kami mengutusmu melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." (Q.S. Saba': 28)

Sebagaimana kita ketahui bahwa Rasulullah Muhammad Saw. adalah penutup nabi-nabi, maka kerasulan telah diakhiri olehnya dan is membawa hukum yang sempurna.

Allah Swt. berfirman:

"Dan tklaklah Muhammad sebagai bapak dari seorang pun di antara orang-orang lelaki dari kamu, akan tetapi la adalah rasul (utusan) Allah dun penutup dari nabi-nabi." (Q.S. Al-Ahzab: 40)


Rasul-Rasul Ulul Azmi

Di antara rasul-rasul Allah, ada yang dilukiskan dalam AI-Qur'an sebagai ulul azmi. Mereka adalah rasul-rasul yang dari mereka Allah menyuruh rasul-Nya Muhammad Saw. untuk mengambil toladan Tl dalam perjuangannya. Sesuai dengan firman-Nya:

"Bersabarlah engkau sabagaimana ulul azmi di antara Para rasul bersabar."
Mereka dinamakan ulul azmi karena tekad mereka kuat, cobaan yang diberikan kepada mereka sangat keras dan perjuangan yang mereka lakukan juga berat. Mereka adalah Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa.

Demikian pula Nabi Muhammad Saw. termasuk golongan ulul azmi, karena beliau termasuk nabi yang paling banyak melakukan jihad sabar serta banyak pengorbanannya, sehingga Allah memberi pujian dan penghormatan hingga tingkat yang tidak pernah Allah mengkhususkan dengan seorang nabi sebelumnya.

Kewajiban Iman kepada Nabi-Nabi

Islam menjadikan iman kepada nabi-nabi sebagai salah satu rukun akidah Islam.

Allah Swt. berfirman:

"Katakanlah: Kami beriman kepada Allah dan kitab yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, anak cucunya dan kitab-kitab yang diturunkan kepada Musa dan Isa, serta kitab-kitab yang diturunkan kepada Para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membedakan antara seorang pun di antara mereka dan kepada-Nya kami berserah diri." (Q.S.AI-Baqarah: 136)

Allah Swt. berfirman dalam menjelaskan akidah orang-orang mukmin:

"Rasul itu beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya oleh Tuhannya. Demikian pula orang-orang mukmin, semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Dan mereka berkata): Kami tidak membedakan seorang pun di antara rasul-rasul-Nya."(Q.S. A1-Baqarah: 285)

Orang-orang muslim beriman kepada semua nabi Allah dan menghormati serta memuliakan mereka, maka barangsiapa ingkar kepada salah seorang nabi dan mencaci seorang pun di antara nabi-nabi yang dimuat dalam Al-Qur'an, berarti is tidak beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Muhammad Saw.

Allah SWT Berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya serta ingin memisahkan antara Allah dan rasul-rasul-Nya, kemudian mengatakan: Kami beriman kepada sebagian dan mengingkari sebagian serta ingin mencari jalan tengah antara hal itu Oman clan kafir) Mereka itulah orang-orang yang sebenarnya." (QS. An-Nisa: 150-151)

Sesuai dengan ajaran-ajaran ini, Islam telah meletakkan asas persaudaraan dan kesatuan antara bangsa-bangsa di bumf. Sehingga apabila manusia beriman kepada seluruh rascal, maka mudahlah pemahaman mereka terhadap perbedaan yang mungkin masih terdapat di antara mereka.

Ini adalah keistimewaan yang hanya dipunyai oleh Islam. dan Islam menjadikan pendekatan ini dengan dan agama-agama lain. Islam juga mewajibkan atas pengikut-pengikutnya untuk beriman kepada nabi-nabi dari umat-umat yang telah diutus oleh Allah dan menghormati mereka.

Sifat Maksum (Terpelihara) dari para Nabi

Hikrnah Allah menghendaki untuk menjadikan nabi-nabi-Nya sebagai manusia yang paling sempurna bentuk dan budi pekertinya. paling banyak ilmunya, paling mulia nasab-nya. paling benar perkataannya, paling banyak kecerdasannya. sebagaimana Allah melindungi mereka dari keburukan-keburukan bentuk dan tubuh seperti penyakit-penyakit berbahaya.

ltu semua karena hikmah pengutusan nabi-nabi adalah hidayah bagi manusia. Sedang hidayah itu tidak akan terwujud, kecuali dengan pergaulan bersama manusia dan bersama adanya penyakit-penyakit berbahaya itu. Nabi-nabi juga diliputi oleh pemeliharaan dan perhatian serta hidayah-Nya.

Allah Swt. berfirman mengenai Nabi Muhammad Saw.:

"Sabarlah engkau atas keputusan Tuhanmu, karena sesungguhnya Kami selalu mengawasimu."
Allah Swt. sendiri yang mendidik dan melindungi mereka dari perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat, sehingga kehidupan mereka bukanlah untuk diri mereka sendiri, melainkan sebagai teladan bagi manusia untuk mendapat petunjuk. Kemudian sunnah-sunnah dan kenangan-kenangan mereka sesudah wafatnya, merupakan pelita-pelita yang menerangi kegelapan hidup manusia dan menjelaskan kepadanya jalan kebenaran, maka merekalah pemberi petunjuk kepada siapa kita disuruh Allah untuk mengambil teladan.

Allah Swt. berfirman mengenai sekelompok dari nabi-nabi-Nya:

"Kepada mereka itu telah Kami turunkan Al-Kitab dan hukum serta kenabian, maka apabila orang-orang ini ingkar kepadanya Kami turunkan suatu kaum yang tidak mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk, maka hendaklah engkau ikuti petunjuk rnereka." (Q.S. AI-An'am: 89-90)

Nabi-nabi ini paling taat dan banyak beribadah serta melakukan kebaikan.

"Kami jadikan mereka sebagai pemimpin-pernimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Karni,dan Kami suruh mereka agar melakukan perbuatan yang baik-baik, mendirikan salat dan mengeluarkan zakat sedang mereka itu beribadah kepada Kami." (Q.S. Al-Anbiya': 73)

Apabila kita selidiki ayat-ayat Al-Qur'an, maka kita lihat ayat-ayat itu menceritakan sifat-sifat yang paling sempuma dan tinggi yang kami sebutkan pada pembicaraan mengenai masing-masing nabi.

Sendainya nabi-nabi Allah itu tidak memiliki kesempumaan seba-gai manusia semacam ini, niscaya rendahlah mereka dalam pandangan manusia dan tidak seorang pun yang memenuhi seruan mereka.

Seandainya nabi-nabi itu berdusta dan berkhianat serta buruk tingkah lakunya, niscaya lemahlah kepercayaan terhadap mereka dan niscaya mereka itu akan menyesatkan, bukan membimbing, sehingga hilanglah hikmah pengutusan mereka.

Oleh karena itu, maka Allah menyangkal adanya sifat khianat dan semua nabi dengan firman-Nya:
"Tidaklah mungkin seorang nabi itu akan berkhianat." (QS. Ali lmran: 161)
Al-Qur'anul Karim bertentangan dengan Perjanjian Lama dalam pandangannya mengenai nabi-nabi. Perjanjian Lama menggam-barkan nabi-nabi itu dengan dusta dan penipuari serta perbuatan dosa besar. Ia menggambarkan Ya'qub sebagai penipu yang menganggap Luth berzina dengan dua orang putrinya: dan mengatakan tentang Harun, bahwa is berseru kepada orang-orang Israel untuk menyembah anak lembu; dan mengatakan tentang Dawud, bahwa is berzina dengan istri panglimanya Auriya: dan menyatakan tentang Sulaiman, bahwa is menyembah patung-patung untuk menyenangkan istri-istrinya. Sedangkan Al-Qur'an telah menceritakan kisah nabi-nabi ini dan tidak menguatkan salah sate dari anggapan-anggapan ini dan inilah keistimewaan Al-Qur'an yang dirnilikinya dibanding dengan Perjanjian Lama.

Sesungguhnya penggambaran nabi-nabi dengan sifat-sifat yang jelek, dengan sendirinya akan menimbulkan pengaruh buruk atas jiwa orang mukmin yang bertakwa dan menjauhi maksiat, sehingga is berkata dalam dirinya: Jika demikian keadaan nabi-nabi Allah dan rasul-rasul-Nya, maka tidak ada halangannya bagi kami untuk berbuat seperti mereka.

Ini adalah kesempatan baik yang mungkin dimanfaatkan oleh orang-orang yang sakit jiwanya untuk merumuskan diri dalam maksiat-maksiat dan dosa-dosa di samping hal ini bertentangan dengan kebenaran dan kenyataan kesucian nabi-nabi Allah dari dosa-dosa besar.

Nabi-nabi menurut Islam terjaga dari perbuatan maksiat. Adakala-nya terjadi kesalahan-kesalahan pada sebagian dari mereka yang menimbulkan teguran dan tidak ada hubungannya dengan masalah-masalah akidah atau budi pekerti, sehingga perbuatannya tidak dianggap perbuatan yang buruk.

Adakalanya Para nabi sendiri menganggap diri mereka kurang memenuhi hak Allah, karena is termasuk orang yang lebih tabu tentang kemuliaan Allah dan kebesaran-Nya, maka mereka pun meminta ampun kepada Allah atas kekurangan mereka bukan atas dosa-dosa yang mereka lakukan.
Ketika nabi-nabi dalam kedudukan tinggi lantaran ketaatan dan kejauhan dari hawa nafsu dan maksiat, maka Allah menyuruh kita untuk twat kepada mereka dan mengambil suri tauladan dari perjalanan hidup mereka.

Allah Swt. berfirman:

"Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh maka ikutilah petunjuk mereka."

Allah SWT. menyuruh kaum muslimin untuk mengambil teladan dari rasul-Nya Muhammad Saw.:

 "Adalah bagi kamu dalam diri Rasulullah (Muhammad Saw.) terdapat teladan yang balk bagi siapa yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah," (Q.S. Al-Ahzab: 21)

Dan surah A1-Fatihah yang diulang-ulang oleh kaum muslimin dalam salat-salat mereka telah dijadikan Allah doa di dalamnya sebagai berikut:

"Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang Engkau ben kenikmatan kepada mereka."

Terutama di antara mereka yang diberi kenikmatan oleh Allah ialah nabi-nabi.

Dalam doa ini terdapat pemberitahuan dari Allah kepada kaum mukminin agar mereka menjadikan nabi-nabi sebagai ikutan mereka dalam seluruh perbuatan dan perkataan mereka.

Mukjizat Nabi-Nabi

Wajib atas setiap prang mukmin untuk beriktikad bahwa Allah Ta'ala telah memperkuat nabi-nabi-Nya dan menolong mereka dengan inayah Ilahiyah berupa hal-hal yang tidak pernah diterima akal sebelumnya. supaya mereka bisa memantapkan kebenaran yang mereka serukan. Dan mereka mengetahui bahwa ia diutus oleh Allah.

Hal-hal yang menguatkan ini dinamakan mukjizat atau bayyinah, karena ia adalah perbuatan-perbuatan di atas kemampuan manusia biasa dan di luar ruang lingkup kemampuan dan pengetahuan mereka, sebagaimana ia bertentangan dengan sunnah-sunnah khusus mengenai materi dan hukum-hukum alam biasa.

Lafad yang paling banyak digunakan adalah lafad 'mukjizat'. Dinamakan demikian karena ia merupakan perbuatan-perbuatan yang membuat manusia tidak mampu menerimanya. Para ulama mendefinisikan bahwa ia adalah perkara di luar kebiasaan yang diberlakukan Allah pada seorang nabi yang diutus untuk membuktikan kebenaran kenabiannya. Mukjizat-mukjizat ini mungkin pada zatnya, akal tidak menghalanginya dan kenyataan mendukungnya.

Nabi menyampaikan petunjuk kepada umatnya yang disunth Allah menyampaikannya. Di antara orang-orang itu ada yang bersih fitrahnya, make ia pun menerima kebenaran ketika telah nyata baginya. Dan di antara mereka ada yang rusak fitrahnya, sehingga ia pun menjauh dari kebenaran dan dari cahaya hidayah sebagai pembangkangan dan kesombongan.

Oleh karena itu hikmah Allah menghendaki dia mengukuhkan rasul-rasul-Nya dengan bukti-bukti yang membungkam mulut Para penentang dan pembangkang, dan memutus alasan-alasan mereka serta mendirikan alasan terhadap mereka.

Mukjizat itu tidak datang dengan jalan mempelajari ilmu dan menjalani sebab-sebab yang mungkin dijalankan, sebagaimana halnya dalam sihir yang mempunyai sebab-sebab dan kaidah-kaidah yang bisa dipelajari oleh sementara orang, sehingga timbul darinya sihir yang menyerupai perbuatan-perbuatan yang luar biasa, sedang ia tidak termasuk hal itu.

Macam-macam Mukjizat

Mukjizat nabi-nabi ada beberapa macam.

Di antaranya mukjizat alami, seperti memancarkan air dari batu ketika Musa memukul dengan tongkatnya tatkala kaumnya mints minum darinya. Dan seperti perlindungan awan mendung atas bani Israel ketika mereka tersesat. Dan seperti terbelahnya laut oleh Nabi Musa as. dan surutnya air dari situ, sehingga ia bisa berjalan melarikan diri dari Fir'aun.

Di antaranya yang lain adalah yang lain adalah kabar-kabar gaib, seperti pemberitahuan Isa kepada kaumnya tentang apa yang mereka makan dan mereka simpan di rumah-rumah mereka.

Selain itu juga ada mukjizat yang berlawanan dengan hukum-hukum alam seperti api yang dipergunakan orang-orang kafir untuk membakar Nabi Ibrahim as., ternyata menjadi dingin dan menimbulkan keselamatan atas Ibrahim as.

Ada juga mukjizat-mukjizat pada waktu-waktu tertentu yang terjadi menurut kadar kebutuhannya.
Hikmah Allah menghendaki bahwa mukjizat setiap rasul adalah menurut keadaan lingkungan dimana ia diturunkan, supaya hal itu lebih ampuh dalam mendukung kerasulannya dan lebih kuat dalam dakwahnya. Seperti mukjizat Isa as. dengan menghidupkan orang-orang mati, karena orang Yahudi pada waktu itu mengingkari ruh: mukjizat Musa as. yang tongkatnya bisa hidup dan menelan tongkat tukang-tukang sihir dan tali-tali mereka, karena orang-orang Mesir pada waktu itu pandai dalam ilmu sihir.

Mukjizat nabi-nabi sebelum Muhammad Saw. timbul dengan cara ini, karena akal-akal manusia masih belum matang untuk bisa menerima hujjah dan beriman kepada bukti yang berdasarkan akal dan tidaklah ia beriman dalam masa-masa ini, melainkan kepada hal yang luar biasa yang kemunculannya bisa mengalahkan mereka dan membuat mereka menerima kebenaran nabinya.

Mukjizat Nabi Muhammad Saw.

Mukjizat-mukjizat tetap dengan macam ini hingga manusia mencapai kedewasaan dan kematangan akal, sehingga terwujudlah kehendak Allah yang mendatangkan kerasulan umum melalui rasul-Nya Muhammad Saw. Maka la pun menguatkannya dengan mukjizat aqliyah yang kekal, yaitu Al-Qur'an yang menimbulkan mukjizat dengan susunan bahasa dan balaghoh-nya serta isinya yang meliputi petunjuk dan ilmu-ilmu pengetahuan. Dan digunakan oleh Nabi Muhammad Saw. untuk menantang bahasa Arab agar mereka membuat satu surah seperti AI-Qur'an, maka mereka pun tidak mampu, dan mereka adalah orang-orang yang tersohor dengan kefasihan dan kecakapan dalam seni sastra.

Mukjizat Nabi Muhammad Saw. mempunyai keistimewaan dibandingkan dengan mukjizat terdahulu, bahwa ia adalah mukjizat yang hidup kekal sepanjang masa dalam jangkauan setiap peneliti dan setiap pencari kebenaran untuk menyentuhnya. sementara mukjizat nabi-nabi merupakan peristiwa-peristiwa yang sudah habis dan hanya dilihat oleh orang-orang yang hidup bersama nabi-nabi itu dan tidak dilihat oleh orang-orang sesudah mereka.

Ia hanya sampai melalui pendengaran dan riwayat, hal itu bisa menimbulkan pengaruh yang lemah, khususnya dizaman ini, dimana banyak terdapat kekaburan-kekaburan dalam agama-agama itu.

Oleh sebab itu, sikap Islam terhadap mukjizat-mukjizat adalah menghindarkan manusia dari pencarian mukjizat-mukjizat itu dan mengembalikan mereka kepada renungan dan pemikiran tentang isi risalah Islam dan petunjuk yang dikandungnya yang- terdapat dalam Al-Qur'anul Karim.
Sebagian orang-orang yang ragu terhadap kerasulan Muhammad Saw. telah meminta beberapa mukjizat, maka jawaban Allah Ta'ala kepada mereka ialah, agar mereka melihat isi Al-Qur'an yang berisi petunjuk dan dalil-dalil aqliyah bahwa ia adalah wahyu ilahi.

Kendati demikian Allah Swt. telah memberikan sejumlah mukjizat kepada nabi-Nya Muhammad Saw. seperti memancarkan air dari jari-jarinya ketika beliau meletakkannya di dalam qirbah (tempat air dari kulit), dan mengenyangkan orang banyak dari makanan yang sedikit, dan pemberitahuan beliau tentang beberapa peristiwa di masa yang akan datang, serta tentang perjalanannya ke Baitul
Maqdis pada malam Isra' dan lain-lain.

Allah SWT. berfirman:

"Mereka berkata: Tidakkah diturunkan kepadanya (Muhammad Saw.) tanda-tanda (mukjizat) dari Tuhannya. Katakanlah: Sesungguhnya tanda-tanda (mukjizat) itu di sisi Allah dan Aku hanyalah pemberi peringatan yang nyata. Tidakkah cukup bagi mereka yang Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) yang dibacakan kepada mereka. Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu terdapat rahmat dan peringatan bagi kaum yang beriman." (Q.S.A1-Ankabut: 50-51)

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog